Bisa jadi hari terbaik bagi sebagian orang.
Bisa saja, seorang laki-laki menikahi seorang perempuan hari ini;
Bisa saja, seorang ibu melahirkan seorang anak hari ini;
Bisa saja, seorang ayah menyekolahkan anaknya hari ini;
Bisa saja, seorang anak membelikan rumah untuk ibunya hari ini.

Namun hari ini,

Bisa jadi hari yang buruk bagi sebagian orang yang lain.
Bisa saja, seseorang mengalami kecelakaan hari ini;
Bisa saja, seseorang gagal lulus ujiannya hari ini;
Bisa saja, seseorang kehilangan seseorang yang berharga baginya;
Bisa saja, seseorang meninggal hari ini.

Bagiku hari ini,
Spesial.

Bagaimana kamu hari ini?

--

--

Belakangan ini saya disibukkan dengan pembelian seragam karena sebentar lagi akan diadakan PTM (Pembelajaran Tatap Muka) dan agaknya akan menjadi tanda berakhirnya PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh).

Menurut saya, penerapan penggunaan seragam — baik itu putih-merah, putih-biru, maupun putih-abu-abu — di sekolah-sekolah di Indonesia merupakan sebuah cara untuk menyatakan sikap keseragaman. Bahwa di setiap tingkat pendidikan, seragam menyatakan adanya kesamaan derajat antar pelajar SD, SMP, dan SMA.

Namun hal ini dibatalkan oleh munculnya ‘seragam khas sekolah’. Karena sekolah yang menyediakan ‘seragam khas sekolah’ tersebut ingin membedakan diri dari sekolah lain.

Jika begitu, apa gunanya penggunaan seragam? dari unsur kata-nya saja berarti satu ragam, satu macam, mengapa harus ada pembedaan lagi di antara seragam-seragam.

Bukankah sebaiknya namanya diganti saja menjadi ‘beragam’?

--

--